Binance vs Bursa Baru 2026: Apakah Raksasa Mulai Tertinggal? (Kajian: Upbit)
Binance vs Upbit menjadi studi menarik di 2026 ketika exchange global raksasa mulai berhadapan dengan pemain regional yang unggul regulasi. Tetapi memasuki 2026, peta persaingan makin mirip pertarungan dua filosofi: skala global super-agresif vs ekspansi yang lebih tersegmentasi dan patuh regulasi per negara. Di titik inilah Upbit menarik untuk dibahas bukan karena ia “mengalahkan” Binance secara global, melainkan karena ia mewakili model “emerging exchange” yang bisa menggerus keunggulan tradisional sang raksasa dari sisi tertentu.
Upbit: “Emerging” yang Sebenarnya Sudah Sangat Dominan di Kandangnya
Upbit (dioperasikan Dunamu) bukan pemain kecil. Di Korea Selatan, ia berulang kali dikaitkan dengan pangsa volume domestik yang sangat besar sekitar 71,6% pada semester pertama 2025 menurut pemberitaan yang merujuk data otoritas pengawas setempat. Modelnya jelas: kuasai pasar ritel domestik dengan pengalaman produk yang kuat, listing yang relevan untuk selera lokal, dan integrasi yang “native” dengan aturan setempat.
Dari sisi bisnis, Dunamu juga menunjukkan kemampuan mencetak profit ketika kondisi pasar mendukung: laporan menyebut Q3 2025 net income sekitar $165 juta, naik signifikan secara tahunan. Ini penting karena banyak exchange global jago volume, tapi margin dan ketahanan bisnisnya tidak selalu setebal itu ketika pasar lesu.
Lebih menarik lagi, Upbit tidak hanya “lokal”. Upbit Singapore, misalnya, mengumumkan telah memperoleh Major Payment Institution (MPI) licence dari Monetary Authority of Singapore. Ini sinyal bahwa sebagian “emerging exchange” tidak sekadar tumbuh lewat promosi, tapi mencoba membangun legitimasi regulasi di yurisdiksi kelas berat.
Binance: Skala Terbesar, Tapi Beban Paling Berat
Binance tetap pemimpin besar di banyak metrik. CoinGecko, misalnya, mencatat Binance sebagai CEX terbesar dengan pangsa sekitar 39,8% pada Juli 2025 (berdasarkan volume spot). Namun, yang jadi konteks 2026 adalah: menjadi yang terbesar juga berarti menjadi target terbesar.
Kasus paling fundamental: penyelesaian hukum di AS pada 2023, ketika Binance mengaku bersalah atas pelanggaran terkait AML/sanksi dan menyepakati pembayaran lebih dari $4 miliar. Terlepas dari debat soal “seberapa selesai” dampaknya, realitasnya sederhana: biaya kepatuhan, pengawasan, dan pembatasan layanan akan selalu lebih mahal bagi pemain global raksasa dibanding exchange yang beroperasi lebih fokus per negara/region.
Jadi ketika muncul narasi “Goliath mulai ketinggalan”, itu biasanya bukan berarti Binance tiba-tiba “jatuh”. Yang lebih masuk akal: keunggulan Binance jadi kurang absolut di beberapa segmen, karena tekanan eksternal membuatnya lebih lambat bergerak, lebih berhati-hati, atau lebih dibatasi.
Di Mana “Emerging Exchanges” Bisa Menggerus Keunggulan Goliath?
Berikut beberapa medan kompetisi yang membuat exchange seperti Upbit relevan sebagai pembanding tanpa perlu mengklaim siapa menang-kalah.
1) Regulasi sebagai Produk, Bukan Sekadar Biaya
Bagi banyak pengguna ritel, regulasi itu “membosankan” sampai akun dibekukan, deposit ditahan, atau layanan dibatasi di negara tertentu. Di fase 2026, exchange yang bisa berkata “kami beroperasi jelas di yurisdiksi ini” punya nilai jual sendiri.
Upbit menunjukkan pola itu lewat dominasi di Korea Selatan (pasar dengan rezim kepatuhan ketat) dan langkah lisensi di Singapura. Sementara Binance, sebagai pemain global, menghadapi kompleksitas lintas negara yang jauh lebih rumit dan rekam jejak penyelesaian kasus besar membuat sorotan kepatuhan makin intens.
Spekulasi berbasis kemungkinan: jika tren “regulasi makin spesifik per negara” berlanjut, maka pertanyaan yang muncul bukan “siapa paling besar”, melainkan “siapa paling kompatibel dengan aturan lokal tanpa merusak pengalaman pengguna”.
2) Likuiditas Global vs Likuiditas yang “Relevan”
Binance unggul dalam likuiditas lintas pasangan dan produk. Tetapi exchange lokal/region bisa menang di hal yang lebih sempit: likuiditas yang relevan untuk komunitas tertentu. Korea Selatan punya dinamika unik: aset tertentu bisa lebih aktif diperdagangkan dibanding pasar Barat. Ada laporan yang menyebut XRP sangat dominan di volume Korea melalui Upbit pada 2025. (Catatan: angka-angka viral soal volume perlu dibaca hati-hati, tapi arahnya jelas preferensi lokal itu nyata.)
Spekulasi berbasis kemungkinan: bila preferensi aset lokal terus kuat, exchange yang mengerti demand setempat dapat terlihat “lebih tajam” untuk pengguna setempat, walau secara global volumenya kalah.
3) Profitabilitas dan Fokus Operasional
Hasil finansial Dunamu pada 2025 menunjukkan bahwa “exchange lokal dominan” bisa sangat menguntungkan saat timing pasar tepat. Ini memberi ruang investasi untuk UI/UX, keamanan, listing process, hingga layanan institusional.
Spekulasi berbasis kemungkinan: jika margin trading makin tertekan (kompetisi fee, insentif maker-taker, biaya kepatuhan), exchange yang tidak perlu “menopang seluruh dunia” bisa bergerak lebih efisien di niche-nya.
4) Narasi Kepercayaan Pasca Skandal Industri
Industri kripto sudah belajar keras dari runtuhnya entitas besar. Di iklim seperti ini, reputasi kepatuhan bukan sekadar PR; ia mempengaruhi preferensi bank, payment rails, dan partner institusional.
Lisensi di yurisdiksi seperti Singapura memberi amunisi reputasi bagi Upbit di luar Korea. Binance, meski tetap raksasa, membawa bagasi historis yang membuat pembuktian “kami kini lebih rapi” jadi proses yang panjang dan mahal.
Jadi, “Goliath Mulai Ketinggalan”Dalam Arti Apa?
Kalau definisinya “Binance tidak lagi nomor satu”, itu sudah masuk wilayah prediksi hasil dan itu dilarang. Tetapi kalau definisinya keunggulan Binance tidak lagi otomatis unggul di semua konteks, itu analisis yang masuk akal.
Di 2026, kompetisi exchange terlihat makin seperti ini:
-
Binance: mesin global dengan jangkauan luas, tapi harus bermain di papan catur regulasi yang makin sempit dan diawasi ketat.
-
Upbit (sebagai wakil emerging yang “regulated-first”): dominan di pasar domestik besar dan memperluas jejak lewat jalur lisensi membangun keunggulan lewat kepastian operasional dan kekuatan lokal.
Indikator yang Layak Dipantau
Kalau ingin membaca arah persaingan tanpa “menebak pemenang”, indikatornya bukan opini melainkan sinyal:
-
Ekspansi berlisensi: exchange mana yang menambah izin operasional di yurisdiksi utama (bukan sekadar “hadir” secara pemasaran).
-
Konsentrasi volume domestik: apakah dominasi lokal (seperti Upbit di Korea) bertahan atau terfragmentasi.
-
Biaya kepatuhan & pembatasan layanan: apakah pemain global makin sering mengurangi fitur/produk di negara tertentu (ini biasanya terasa langsung oleh user).
-
Kinerja bisnis operator: profitabilitas yang konsisten memberi daya tahan saat pasar berubah.
Upbit bukan “anti-Binance”. Ia contoh bahwa pertumbuhan exchange tidak harus lewat jalur “jadi paling global”. Modelnya: jadi paling dominan di satu pasar besar, lalu ekspansi lewat kepatuhan. Di 2026, model seperti ini berpotensi semakin relevan karena regulasi dan trust jadi faktor seleksi yang keras bukan sekadar fitur atau fee.